https://bolehbelajar.com Boleh Belajar, Giving Feedback

Giving Feedback Itu Penting, Tapi Kenapa Sering Berujung Defensive?

Dalam pekerjaan, tugas kuliah, atau bahkan interaksi sehari-hari, feedback itu hal yang wajar. Kita dapat masukan dari teman, rekan kerja, atau atasan dengan harapan bisa jadi lebih baik. Tapi kenyataannya, feedback sering kali justru bikin suasana jadi canggung. Nggak jarang, orang yang menerima feedback langsung bersikap defensif—menjelaskan diri panjang lebar, menyangkal, atau bahkan merasa diserang.

Padahal niat awalnya bukan untuk menjatuhkan, melainkan membantu. Lalu, kenapa giving feedback sering berujung seperti ini?

Defensive Itu Reaksi, Bukan Sikap Buruk

Sikap defensif sering dianggap sebagai tanda tidak dewasa atau tidak mau belajar. Padahal, reaksi defensif sebenarnya sangat manusiawi. Ketika menerima feedback, otak kita kerap menangkapnya bukan sebagai evaluasi kerja, tapi sebagai ancaman terhadap identitas dan harga diri.

Tanpa disadari, feedback bisa terasa seperti, “kamu kurang mampu” atau “kamu tidak cukup baik,” meskipun pesan yang disampaikan sebenarnya hanya soal hasil kerja atau proses. Di titik ini, wajar kalau tubuh dan pikiran langsung masuk mode bertahan.

Masalah Feedback Bukan Cuma Cara Memberi, Tapi Cara Menerima

Selama ini, pembahasan soal feedback sering fokus ke cara menyampaikan yang baik dan benar. Padahal, cara menerima feedback juga sama pentingnya. Banyak orang mendengar feedback sebagai penilaian terhadap diri mereka secara utuh, bukan sebagai informasi untuk belajar.

Saat feedback diterjemahkan sebagai “siapa aku” bukan “apa yang aku lakukan,” otak otomatis bereaksi defensif. Bukan karena tidak mau berkembang, tapi karena merasa perlu melindungi diri terlebih dahulu.

Kenapa Giving Feedback Sering Gagal di Lingkungan Kerja

Di lingkungan kerja, feedback akan sulit diterima jika tidak ada psychological safety. Tanpa rasa aman, orang cenderung lebih fokus melindungi posisi dan citra dirinya daripada mendengarkan masukan.

Selain itu, feedback yang diberikan tanpa konteks yang jelas juga mudah disalahartikan. Bahkan dengan niat baik sekalipun, feedback bisa terdengar seperti kritik personal jika tidak dibingkai dengan tujuan yang jelas dan relevan dengan pekerjaan. Akibatnya, proses belajar berhenti sebelum benar-benar dimulai.

Feedback Baru Efektif Kalau Fokus ke Perilaku, Bukan Identitas

Feedback akan jauh lebih mudah diterima ketika fokus pada perilaku dan dampaknya, bukan pada identitas atau kemampuan personal. Membahas apa yang dilakukan dan apa efeknya terasa lebih objektif dibandingkan mengomentari siapa orangnya.

Pendekatan ini membuka ruang diskusi dan perbaikan, bukan pembelaan diri. Karena itu, proses belajar yang efektif membutuhkan ruang praktik dan feedback yang spesifik, terukur, dan dilakukan secara berulang.

Pendekatan inilah yang diterapkan di bootcamp Boleh Belajar. Peserta belajar lewat praktik langsung dan menerima feedback yang fokus pada proses kerja dan hasil, bukan pada penilaian personal. Dengan begitu, feedback menjadi bagian dari proses berkembang, bukan sumber tekanan.

Reaksi defensif terhadap feedback adalah hal yang manusiawi. Namun, feedback tidak harus berhenti sebagai sumber ketegangan. Ketika feedback disampaikan dan diterima sebagai evaluasi perilaku dan proses, ia justru bisa menjadi alat yang sangat kuat untuk bertumbuh.

Lewat Bootcamp Boleh Belajar, kamu belajar melalui praktik dan feedback yang berfokus pada proses kerja, bukan penilaian personal—membantu kamu berkembang tanpa harus terus berada dalam posisi defensif.

Comments

Leave a Reply