Bukan soal “belajar lebih banyak”, tapi belajar dalam konteks yang tepat. Pada kenyataannya di dunia digital marketing, banyak skill terlihat dikuasai secara teori, tapi terasa asing saat masuk ke dunia kerja. Di titik inilah, feeling left behind sering muncul—bukan karena kamu kurang mampu, tapi karena proses belajar dan berkembang terasa tidak sejalan dengan realita yang kamu lihat di sekitar.
Melihat teman sebaya sudah bekerja, naik jabatan, atau terlihat “lebih dulu sampai”, wajar jika muncul pertanyaan dalam diri: “Kenapa masih aku stuck di sini?”
Kenapa Rasa “Tertinggal” Itu Sering Muncul
Rasa tertinggal jarang datang tanpa sebab. Secara umum, perasaan ini muncul karena tiga hal berikut:
- Tekanan timeline hidup
Tanpa sadar, kita tumbuh dengan bayangan bahwa di usia tertentu, kita seharusnya sudah mencapai sesuatu. Sudah kerja, stabil, harus sudah “jadi”. Akibatnya, ketika realita nggak sesuai, muncul rasa panik—seolah kita terlambat naik kereta yang sama dengan orang lain.
- Kebiasaan membandingkan diri
Selain itu, kita sering bandingin hasil akhir dengan orang lain, tanpa tahu proses dan perjuangan di baliknya. Padahal, yang keliatan cuma highlight nya aja, bukan realtinya.
- Efek media sosial
Di sisi lain, media sosial bikin hidup terlihat seperti lomba cepat. Timeline penuh sertifikat, promosi, dan milestone orang lain. Tanpa sadar, hidup terasa seperti balapan.
Padahal, setiap orang berlari di jalur dan ritme yang berbeda. Dan nggak semua orang berlari di lintasan yang sama—itu nggak masalah.
Merasa Tertinggal Bukan Berarti Kamu Gagal
Namun, penting untuk diingat, merasa left behind atau tertinggal nggak sama dengan gagal. Justru, rasa ini sering muncul saat seseorang sedang ada di fase transisi—ketika sadar bahwa dirinya ingin berkembang, tapi belum nemuin arah yang paling tepat.
Pada akhirnya, setiap orang punya ritme belajar dan timeline hidup yang berbeda. Ada yang cepat di jalurnya, ada yang perlu mencoba beberapa kali dulu sebelum terasa pas. Keduanya sama-sama valid.
Daripada melihat rasa tertinggal sebagai tanda kekurangan, kamu bisa memaknainya sebagai sinyal bahwa kamu sedang bertumbuh dan mulai lebih sadar terhadap posisi diri sendiri.
Mulai Tambah Skill di Lingkungan yang Mendukung
Karena itu, salah satu langkah paling realistis untuk keluar dari rasa left behind adalah mulai menambah skill secara terarah, bukan sekadar belajar asal-asalan.
Di sinilah pentingnya mencari lingkungan yang dapat mensupport dalam menambah skill baru. Dengan kata lain, bootcamp bukan cuma soal materi atau sertifikat. Lingkungan ini dapat membantu kamu:
- Belajar dengan konteks dunia kerja nyata
- Melihat bahwa banyak orang lain juga sedang berproses
- Mendapat arahan, feedback, dan dukungan saat merasa stuck
Lingkungan yang tepat membuat proses berkembang terasa lebih relatable dan cenderung menyenangkan. Ada ruang untuk mencoba, salah, lalu belajar lagi tanpa tekanan harus langsung sempurna.
Pada akhirnya, merasa tertinggal sering kali bukan tanda kamu kalah atau gagal, tapi tanda bahwa kamu ingin bergerak maju dengan cara yang lebih bermakna. Yang terpenting bukan seberapa cepat langkahmu, melainkan proses step by step ketika kamu melangkah.
Dengan belajar dan menambah skill di lingkungan yang suportif, proses berkembang bisa terasa lebih terarah dan relevan. Bootcamp Boleh Belajar bisa menjadi langkah awal kamu untuk mencoba mulai bergerak.
Yuk, mulai langkah pertamamu hari ini!

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.