Di awal kerja sama dengan klien, monthly report biasanya langsung masuk ke dalam scope. Setiap bulan ada laporan performa, angka-angka, dan rangkuman campaign. Tapi nggak jarang juga muncul pertanyaan, “Campaign baru jalan, masa iya udah perlu laporan?”
Padahal, monthly report bukan soal cepat-cepatan lihat hasil. Justru di sinilah agency dan klien bisa sama-sama memahami perjalanan sebuah campaign: apa yang sudah berjalan, apa yang belum optimal, dan apa yang perlu disesuaikan ke depannya.
Otak Kita Memang Suka Hal yang Terasa Dekat
Secara alami, otak manusia lebih cepat merespons hal-hal yang terasa familiar. Cerita yang mirip dengan pengalaman pribadi akan lebih mudah dikenali, diingat, dan terasa relevan.
Karena itu, ketika kita menemukan konten dengan narasi yang berulang tentang lelah bekerja, bingung menentukan arah, atau merasa jalan di tempat—responnya sering kali instan. Bukan karena ceritanya istimewa, melainkan karena polanya dekat dengan realitas yang sedang kita jalani.
Di titik ini, rasa relate sebenarnya wajar. Itu adalah tanda bahwa kita merasa dipahami. Namun, jika terlalu sering berhenti di perasaan tersebut, kenyamanan bisa membuat kita bertahan lebih lama di posisi yang sama.
Algoritma Media Sosial Memperkuat Rasa “Relate”
Rasa relate semakin kuat karena algoritma media sosial bekerja secara personal. Setiap konten yang kita tonton, sukai, simpan, atau bagikan akan menjadi sinyal untuk menghadirkan konten serupa di kemudian hari.
Ketika kita sering berinteraksi dengan tema yang sama. Entah tentang kebingungan, kelelahan, atau keinginan berkembang tanpa arah—timeline kita pun dipenuhi narasi serupa. Akibatnya, muncul kesan bahwa hampir semua orang berada di fase hidup yang sama.
Tanpa disadari, kita masuk ke lingkaran konten yang memvalidasi perasaan, tetapi jarang mendorong perubahan. Kita merasa ditemani, namun tidak ditantang untuk melangkah lebih jauh.
Nyaman, Tapi Bisa Bikin Kita Stuck
Merasa relate memang memberi rasa aman. Ada keterhubungan emosional yang membuat kita betah berlama-lama.
Namun, ketika rasa nyaman ini tidak diikuti tindakan, perlahan ia berubah menjadi stagnasi. Kita tahu ada hal yang ingin diperbaiki, tetapi terus menunda langkah karena belum merasa “siap”.Relate tanpa aksi akhirnya hanya membuat kita berputar di tempat yang sama. Padahal, proses berkembang selalu menuntut keputusan, usaha, dan keberanian untuk keluar dari pola yang berulang dan mulai moving forward.
Merasa relate adalah hal yang manusiawi. Tetapi perubahan tidak lahir dari rasa nyaman semata—ia datang dari langkah yang sengaja diambil, sekecil apa pun itu.Jika kamu sering merasa relate tetapi ingin benar-benar berkembang, mungkin yang dibutuhkan bukan konten baru, melainkan arah yang lebih jelas. Lewat Bootcamp Boleh Belajar, kamu bisa mulai meng-upgrade skill dengan pendampingan dan praktik yang terarah. Bukan sekadar merasa terhubung, tetapi benar-benar bergerak maju dan bertumbuh menjadi versi diri yang lebih baik.

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.